Ujian kesabaran

May 18, 2013 at 11:30 pm Leave a comment

Sabar, sebuah kata yang sangat tak asing didengar, tetapi cukup sulit untuk diaplikasikan apalagi dalam hal-hal tertentu. Yaah, inilah ujianku kali ini. Sabar. Ya! Lagi-lagi tentang kesabaran..

Cukup iri hati ini mendengar, melihat, dan membaca garis takdir beberapa teman yang sepertinya dalam hal ini sangat diberikan kemudahan. Walaupun begitu, saya yakin setiap orang ujiannya akan berbeda-beda disesuaikan dengan porsinya masing-masing menurut Allah. Mengapa saya diberi ujian kesabaran? Hanya Allah yang tahu. Terlalu naif jika menganggap diri ini cukup sabar sehingga diuji kesabaran yang lebih tinggi lagi. Mungkin saat ini saya hanya bisa bersabar dengan sesekali menggerutu dalam diri, tapi semoga suatu hari kelak saya dapat mengetahui hikmah dibalik ujian ini.

Kemarin malam saat melepas lelah mengajar, tak sengaja aku sampai pada sebuah blog yang isinya mengenai seluk beluk pernikahan. Sebenarnya tak ada yang aneh dengan isinya karena beberapa kali kalimat-kalimat tausyiah serupa sudah pernah kudengar, bahkan pernah dikatakan pula oleh calon suamiku diawal kami berta’aruf. Tapi ntah mengapa saat membaca blog tersebut rasanya berbeda. Ada getaran dahsyat yang menyayat jiwaku, betapa lemahnya aku, betapa ringkihnya aku.

“Laki-laki harus menahan nafsunya, sedangkan perempuan harus menjaga (kehormatan) dirinya.”

Pernikahan yang barokah diawali dari prosesnya yang baik. Ketika pernikahan diawali dengan proses yang salah, maka dikhawatirkan akan mengurangi keberkahan kehidupan setelah pernikahan nantinya. Ketika pernikahan diniatkan untuk ibadah, untuk membentuk rumah tangga yang sakinah mawaddah warahmah wada’wah, untuk memiliki anak yang menjadi jundullah sholeh/sholehah, maka harus diawali dengan proses yang benar dan tidak menyimpang. Apalagi, ketika kami sama-sama telah dianugerahkan pemahaman tentang hal ini, betapa munafiknya kami jika malah melakukan hal-hal sekecil apapun yang dapat mengurangi keberkahan kehidupan kami setelah pernikahan (jika pernikahan itu ditakdirkan terjadi) hanya demi memuaskan nafsu sesaat, nafsu yang seharusnya dapat dikendalikan beberapa saat lagi.

“Khitbah itu tanda keseriusan, penerimaan, dan keridhoan keluarga, bukan tanda dimulainya pemberian cinta dan kasih sayang”

Benar sekali apa yang disampaikan bahwa jarak antara khitbah dan pernikahan itu sebaiknya dipersingkat, tidak terlalu lama. Setidaknya itulah yang kurasakan saat ini. Sebab, masa-masa ini sangat riskan oleh godaan setan yang memunculkan rasa kekhawatiran, ketidakyakinan, ketakutan, dll. Selain itu, masa ini pula riskan terhadap perlakuan-perlakuan pasangan yang sedikit banyak telah memiliki rasa kepemilikan terhadap diri kita, begitu pun sebaliknya. Ketika perhatian, cinta, dan kasih sayang sudah dirasakan sebelum waktunya, berarti kita sudah mencuri garis start waktu yang belum tentu garis startnya akan kita temui. Toh, kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada esok hari, bahkan pada detik kehidupan selanjutnya.

Ya, inilah ujian kesabaranku kali ini, mungkin lebih tepatnya ujian kesabaran untuk kami, yaitu waktu.

Advertisements

Entry filed under: Ungkapan hati.

Seputar sholat istikharah PMS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Keep in your mind that your life just for Alloh

Categories

Twitter

Error: Please make sure the Twitter account is public.

My personality

Click to view my Personality Profile page

Blog Stats

  • 33,371 hits

Posting

Mutiara hikmah

May 2013
M T W T F S S
« Aug   Jun »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Islamic Calendar


%d bloggers like this: