Posts filed under ‘Fakta menggelitik’

Hey, auratmu terlihat loh pas sholat!

Alhamdulillah, kita dipertemukan lagi dengan bulan suci ramadhan. Semoga kita bisa mengisi detik-detiknya dengan ibadah dan kegiatan yang bermanfaat, aamiin. Belum tentu kan tahun depan kita bertemu ramadhan kembali.

Mumpung awal ramadhan nih, saya mau sedikit sharing tentang pengamatan dan pengalaman terhadap ketidaksempurnaan sholat yang biasanya tidak disadari tetapi dapat diantisipasi, terutama bagi muslimah, yaitu terbukanya aurat secara tidak sengaja ketika sholat.

1. Untuk muslimah yang belum berjilbab atau siapapun muslimah yang sholat di kediamannya, ada kemungkinan sholat menggunakan baju tangan pendek. Meskipun sudah menggunakan mukena, bisa saja tanpa disadari ketika mengangkat tangan “Allahu akbar” tangan Anda hingga ke siku terlihat. Hal tersebut terjadi ketika mengangkat tangan tidak dibalik mukena, alias ketika mukena ikut diangkat bersamaan mengangkat tangan. Kalau ga percaya, silahkan praktikan di depan cermin, hehe.. Antisipasinya, tetap gunakan baju tangan panjang atau mengangkat tangan tanpa mengangkat mukenanya, latihan saja di depan cermin 😀

2. Untuk muslimah yang tidak menggunakan kaos kaki ketika sholat dan mukena bawahannya pendek atau mukena bawahannya renda, ada kemungkinan ketika duduk tasyahud, sujud, ataupun ketika berdiri dari sujud, telapak kaki Anda terlihat. Sering sekali saya melihat fenomena ini. Antisipasinya, kalau Anda tidak yakin mukena Anda cukup panjang untuk menutup kaki, tidak ada salahnya untuk sholat dengan menggunakan kaos kaki, yang bersih tentunya.

3. Untuk muslimah yang menggunakan pakaian minimalis (bajunya pendek dan ketat sebatas pinggang), ada kemungkinan ketika ruku atau sujud bagian pinggang belakang hingga punggung bawah Anda terlihat, terutama ketika Anda menggunakan mukena yang juga kekecilan. Bahkan, secara tidak sadar, bagian atas (maaf) celana dalam pun terlihat. Hal ini disebabkan pada posisi ruku maupun sujud, pakaian dan mukena Anda akan tertarik. Fenomena ini beberapa kali saya lihat di mushola umum di mall-mall. Dimana biasanya ketika hangout ke mall mereka menggunakan pakaian main yang minimalis dan tidak membawa mukena sendiri. Jadinya mukena kekecilan pun dipakai. Antisipasinya, bawalah mukena sendiri yang jelas-jelas cukup nyaman untuk ukuran tubuh Anda. Antisipasi lain yang lebih jitu, gunakan pakaian muslimah tentunya 🙂

4. Masih umumnya terlihat di mall karena menggunakan mukena seadanya. Ukuran wajah tiap orang kan beda-beda. Apalagi seringkali mukena di tempat umum bagian wajahnya sudah sobek (dan juga beraroma). Alhasil, ketika Anda tidak menggunakan jilbab dan tetap memaksa menggunakannya, rambut Anda terlihat dan Anda jadi sibuk membenarkan posisi mukena saat sholat. Bahkan saya pernah melihat sampai ada yang melorot-lorot begitu. Astaghfirulloh.. Antisipasinya sama kayak no 3 sepertinya.. 🙂

Setidaknya hal-hal tersebut yang sering saya jumpai di lapangan. Ada yang mau menambahkan?

Bukan untuk menggurui, tetapi ingin berbagi dan mengingatkan untuk kesempurnaan sholat kita, apalagi di bulan Ramadhan 🙂

July 9, 2013 at 9:45 pm Leave a comment

“Apes”, itulah taqdir…

Duh, judulnya aja dah merana gitu.. Ono opo toh???

Sabtu, 7 April 2012 kemarin, kami sekeluarga akan menghadiri pernikahan saudara di Bogor. Dari rumah kami berangkat jam 6.20 pagi untuk mengejar resepsi diawal, kemudian cepat bisa pulang ke Bandung lagi. Karena ngrasa masih pagi dan biasanya puncak ditutup jam 10 dan yakin bakal kekejar, papa memutuskan untuk lewat puncak saja daripada lewat Cipularang, kudu muter jakarta dulu soale, plus kudu bayar tol juga, hehe.. Ya, saya sih seneng aja cz lewat puncak bisa sambil menikmati pemandangan sambil ngehayal naek Gunung Gede Pangrango dan berkemah di Suryakencana, uhuuy.. 😀

Sampai puncak pass tak ada masalah, lalu lintas dua arah lancar banget, malah relatif sepi untuk ukuran puncak sih. Jam 09.10, ga sampe 100 meter sebelum km 30, tiba-tiba laju mobil terhenti, lebih tepatnya dihentikan oleh antrian mobil didepan dan anak-anak penjual makanan asongan mulai berlarian menyerbu mobil. Fyuuuuh.. Jalan sudah ditutup tepat didepan mata kami, tepatnya di belokan di bawah jembatan yang menyebrangi jalan di bawah km 30. Apes, cuma beberapa meter.. Menunggulah kami dsana sampai sekitar jam 11.30 dengan menikmati orang-orang yang paralayang. Pengen.. Papa mah sibuk keluar buat “ngobrol” plus ceramahin polisi hingga diwawancara reporter tv, maklum, orang transportasi klo sudah jadi korban keanehan sistem transportasi akan begini, babeh..babeh.. 😀

(more…)

April 8, 2012 at 3:01 pm Leave a comment

Pendzoliman anak bangsa

Selesai! Yap, ujian nasional untuk tingkat SMA hari ini telah berakhir. Namun bagiku ia berakhir dengan beribu tanya akan masa depan ribuan anak bangsa, terutama yang menjalankan ujian tersebut dengan tidak tepat. Mengapa?

Murid-muridku di suatu bimbingan belajar dengan polosnya bercerita mengenai keberjalanan UN mereka. Sungguh miris sahabat… Saya yang selama ini membayangkan sebuah ujian nasional itu berjalan tenang dengan konsentrasi penuh mengerjakan soal sebagai alat ukur kemampuan kita terhadap suatu mata pelajaran, ujian yang penuh kompetisi sebab menentukan posisi kita dibandingkan teman-teman, ujian yang menentukan kelulusan dengan senyuman kedua orang tua akan prestasi belajar anaknya, ujian yang memberikan kepuasan setelah berhasil menyelesaikannya, tetapi kini rasanya kok sudah jauh menghilang. Walaupun saya yakin hal ini hanya terjadi dibeberapa sekolah saja, tapi sungguh hal ini membuat rusak mental anak bangsa. Bagaimana nasib bangsa ini ketika merekalah yang harus memegang kepemimpinan nanti? Apakah cara-cara strategis terlarang seperti itu yang akan mereka tiru? Sungguh miris…

Bagaimana tidak? Kunci jawaban ujian bocor melalui sms bagaikan air mengalir pada pipanya. Dan yang tak tanggung-tanggung, ada sebuah sekolah yang dengan sengaja memberikan kunci jawaban melalui wali kelasnya di pagi hari kepada seluruh muridnya, atas sepengetahuan kepala sekolah -atau mungkin bahkan wali kelas itu diperintahkan beliau-. Muridku itu berkata, “Temen-temen semua dikumpulin setengah tujuh atau jam tujuh (saya lupa) sama wali kelas, trus dibilang ini kunci jawaban soal A dan ini yang soal B. Yah, kita catet aja deh rame2” sembari ia mengeluarkan selembar tisu kecil yang berisi tulisan renyek kunci jawaban. Murid yang lain pun menimpali mereka udunan Rp20.000 untuk memperoleh kunci jawaban. Yang lain, banyak pula yang mengiyakan kebenaran jawaban. Miris…

(more…)

March 27, 2010 at 1:08 am Leave a comment

Halalkah J-Co?

Hari ini akhirnya kumengisi waktu antar jadwal kewajiban agendaku dengan bermain ke Ciwalk, setelah dibujuk teman-teman yang kelaperan setelah kuliah. Mereka penasaran mau nyobain Racha. Yah, aku pun belum pernah mencobanya, jadi ya kucoba saja. Aku ikut temans! 😀

Racha itu ternyata masakan Korea yang menunya bebas kita pilih sendiri dan nanti kita masak sendiri di atas meja. Sebenarnya bukan bener2 masak sih, hanya memanaskan daging setengah matang dan segala pernak-perniknya dengan memanggang dan merebusnya. Terus terang, tuh mau makan keburu kenyang dengan proses memasaknya deh. Yah at least, lucu juga! Apalagi liat temanku yang ga sabaran makan, heu… Lalu bagaimana rasanya?

(more…)

March 2, 2010 at 11:59 pm 2 comments

Renungan di jalan…

Tadi pagi sewaktu berangkat ke kantor, di Jl. Soekarno Hatta, ditengah kemacetan jalan terlebar di Bandung itu, ada seorang kakek menyebrang jalan dengan menggandeng dua anak kecil dengan pakaian lusuh. Biasa memang orang menyebrang jalan, tetapi saat kuteliti ternyata ada yang aneh dengan kakek tersebut, dia tidak beralas kaki alias nyeker. Walaupun saya berada di dalam angkot saya dapat melihat dengan jelas bahwa kakek itu benar-benar tanpa alas kaki karena ketika ia menginjak aspal jalanan yang panas (sebelumnya aspal tertutup oleh bayangan pohon) kakinya berjinjit dan sedikit melompat-lompat sambil tetap menggandeng kedua anak kecil dikedua tangannya, mungkin cucunya. Kubayangkan, pasti Sang Kakek kepanasan hingga bergaya seperti itu…

Awalnya kuberpikir, sebegitu miskin-kah kakek tersebut hingga sandal capit pun tidak bisa ia miliki? Saya pun mengaitkan dengan kasus yang sekarang lagi marak, penjualan daging dari sampah restoran. Huh… Sebegitu miskin-kah masyarakat Indonesia sehingga harus mencari nafkah dengan cara mengais-ngais sampah dan mengolahnya menjadi makanan untuk dijual? Astaghfirullah… Siapa yang salah? Saya mendengar hukuman bagi pelaku 15 tahun penjara, adil kah sementara koruptor kelas kakap saja hanya dipenjara 5 tahun? Saya yakin, pelaku berbuat demikian karena terhimpit dana untuk melangsungkan hidup. Kalau ditanya, mereka pasti tidak mau berbuat demikian jika kehidupan mereka layak. Mereka kreatif, tetapi kreatif yang salah dan tidak berpikir panjang apa akibatnya. Ya mungkin karena tingkat pendidikan mereka rendah juga… Jadi, kalau menurut saya hal ini adalah ketelodoran pemerintah yang tidak dapat mengurus rakyatnya dengan adil.

Aku tak bisa membayangkan bagaimana menjadi pemimpin yang adil di negeri ini. Bagaimana Sang Pemimpin bisa tidur nyenyak, bisa tertawa bahagia, bisa makan berfoya-foya sedangakan rakyat yang merupakan amanahnya sebegitu sengsara? Hingga kini pun saya tak dapat membayangkan pertanggungjawaban diri sendiri dia akhirat nanti, diri yang notabene jiwa raga dan ruh yang kita atur. Terlalu banyak khilaf yang dilakukan… terlalu banyak kemaksiatan yang dilakukan… terlalu banyak kesia-siaan… Haah… Bagaimana dengan pertanggungjawaban Sang Pemimpin yang bertanggungjawab terhadap beribu bahkan berjuta individu? Yaa Allah, berikan petunjuk bagi pemimpin kami agar dapat berlaku adil…

September 15, 2008 at 2:37 pm Leave a comment

Andai Aku-lah Sang Walikota Bandung (2)

Setelah kumenulis Andai Aku-lah Sang Walikota Bandung (1), aku jadi terdorong untuk menulis yang kedua. Pengalaman ini ditulis dari ingatanku beberapa bulan yang lalu hingga saat ini mengenai situasi yang kulihat di angkot. Apakah Pak Walikota pernah naik angkot sebagai rakyat biasa? Tulisan ini kubuat bukan bermaksud ghibah, tapi untuk mengambil pelajaran saja dan berharap semoga kondisi seperti ini dapat berubah menjadi lebih baik.

Fenomena pertama di dalam angkot trayek Margahayu Raya-Ledeng, ketika beberapa bulan yang lalu selama perjalanan di angkot dari rumah menuju kampus. Kebetulan hari ini di terminal aku dapat angkot yang kecil, maksudnya angkot lama yang dipermak jadi terlihat model baru dengan ukuran angkot yang tetap saja kecil daripada angkot yang memang baru. Kebiasaan di Bandung, penumpang itu 7-5 (7orang di kanan, 5orang di kiri), plus masing-masing 2 orang di kursi pengantin dan di kursi depan. Angkot akan jalan jika sudah penuh dengan penumpang. Karena ukuran angkotnya tidak sepanjang angkot yang biasa, maka ketika seorang ibu yang akan naik terakhir ke dalam angkot Sang kernet menyuruh ibu tersebut duduk di kursi sebelah kanan sebagai orang ketujuh. Padahal, untuk enam orang saja -ibu2 semua- tempatnya sudah tidak nyaman. Jelas ibu tersebut tidak mau. Ditambah lagi omelan ibu-ibu di dalam angkot yang ngdumel kalau memang sudah penuh, gak cukup lagi. Kemudian Sang kernet berkata, “Geser-geser atuh bu, biasana ge tiasa tujuhan. Dasar ari ibu-ibu mah bujurna gararede, teu mahi!!!”. (kurang lebih begitu lah…). “Ga sopan banget sih tuh kernet”, dalem hati… Ibu itupun gak jadi naik dan memilih angkot selanjutnya. Berjalanlah angkot yang kutumpangi…

(continue… insya Alloh)

August 20, 2008 at 2:27 pm Leave a comment

Andai Aku-lah Sang Walikota Bandung… (1)

Perjalanan yang kulakukan kemarin meninggalkan rasa bingung terhadap kota Bandung ini. Miris hati ini melihat ulah masyarakat di Kota Bandung. Knapa? Banyak hal yang perlu ditata, bukan saja infrastruktur tetapi juga moral! Dan moral itulah yang utama…

Kemarin aku izin keluar dari Telkom siang-siang, berniat membeli buku di daerah Gelap Nyawang dan mengirimkannya ke sebuah daerah yang tidak kutau dimana tepatnya daerah itu berada, hanya kutau daerah itu bernama Pulau Punjung, Sumatera Barat. Lalu aku terhenyak melihat harga kirimnya yang mencapai Rp39.000 per kg. Wow! Padahal berat buku ini mencapai lebih dari 5kg. Hahaha… Ongkos kirim melebihi setengah harga buku… Setelah sms Oom di Sumbar, beliau memilih untuk mengirim dengan cara lain, mungkin lewat pos atau ikut dengan bis yang menuju daerah sana. Ya akhirnya kubawa lagi buku itu, tapi tidak langsung kembali ke kantor, tapi menuju ke Landmark dulu, sudah janji sama temen buat dateng ke job fair disana. Perjuangan dimulai….

Sampai disana, ternyata harus bayar karcis masuk. Karena memang bawa uang pas2an dan memang niat kesana hanya buat lihat situasi job fair (ga bawa CV, ijazah, transkrip, dll), jadi aku memilih menunggu diluar saja. Temanku Ratna ku-sms saja kalau aku menunggu diluar. Aku menunggu di samping Landmark dan memperhatikan situasi disana. Terlihat puluhan pencari kerja yang sedang mengisi form recruitment dengan penuh harap dapat bekerja disana. Bahkan banyak kudengar pula keluhan akan mahalnya tiket masuk yang mencapai Rp13.000 padahal tidak seimbang dengan banyaknya lowongan kerja yang ditawarkan oleh perusahaan disana. Didepannya, dipinggir jalan, banyak PKL yang berjualan di sisi kanan jalan, mulai dari batagor, baso tahu, teh botol, cendol, gorengan, hingga soto ayam. Dari sosok matanya, mereka berharap para pencari kerja yang kelelahan dapat membeli dagangan mereka. Diujung jalan terlihat beberapa orang polantas (Polisi lalu-lintas) sedang berjaga di trotoar jalan, berjaga sambil mengobrol dengan rekannya seolah disana tidak ada masalah. Padahal, jalan didepannya terlihat macet yang diakibatkan angkot berhenti sembarangan, mobil-mobil terparkir menghabiskan badan jalan, PKL menjaja dagangan di trotor yang memaksa pejalan kaki berjalan dibelakang badan mobil yang terparkir, ditengah jalan.

Yah, kupikir ini adalah kehidupan sebenarnya… Kehidupan yang dilakukan untuk mempertahankan hidup dengan berbagai cara, dari mulai suatu usaha legal hingga yang ilegal. Melakukan sebuah pekerjaan hanya untuk menggugurkan kewajiban dan mempertahankan hidup, bukannya dilakukan karena kesadaran bahwa hidup ini saling berkaitan, dan mempunyai tujuan yang lebih dari itu.

Tak lama, ku dikagetkan dengan teriakkan para PKL didepan mataku. Mereka lalu membawa lari gerobak jualan mereka dengan meninggalkan mangkok-mangkok dan gelas-gelas yang masih berada di tangan pembelinya. Mereka lari secepat kilat menyebrangi jalan, lalu menghilang. Kumelihat polisi yang tadi ngobrol diujung jalan hanya melihat dengan santainya… Sebelum aku sempat bertanya pada diriku sendiri ada apa ini, ternyata apa yang hendak kutanyakan telah terjawab, ternyata ada razia ! Seorang ibu penjual teh botol yang tidak sempat lari disambangi beberapa orang petugas yang kemudian hendak mengangkut gerobak tempat berjualan tersebut. Sang Ibu ‘berkelahi’ dengan petugas demi mempertahankan sebuah gerobak, jadilah gerobak itu menjadi hal yang diperebutkan, saling mendorong. Sang Ibu akhirnya tak berdaya, dan merelakan gerobaknya diangkut ke atas mobil patroli setelah sepertinya melobi Sang Petugas untuk mengambil botol-botol yang masih ada diatasnya. Ya, tak lama kemudian, gerobak itu sudah berada di atas mobil bersama gerobak lain yang bernasib sama, kulihat gerobak Tahu petis. Setelah pengangkutan sebuah gerobak itu selesai, petugas pun pergi meninggalkan Sang Ibu yang kebingungan.

Setelah itu aku berpikir, ooh… seperti inilah sebuah razia yang dilakukan oleh petugas. Ku berpikir, apakah dengan cara ini para pedagang yang berjualan sembarangan akan jera? Pastinya akan ada kontroversi yang melanda pedagang tersebut. Mau berjualan di tempat layak, pajaknya mahal dan belum tentu laku. Tempat yang baik dan murah pasti sudah disesaki oleh pedagang lainnya. Jika tidak berjualan, mereka tidak tau mau makan apa. Yaa.. hidup serba sulit…

Tak sampai lima menit berlalu dari peristiwa tadi, apa yang kupikirkan dalam hati terjawab sudah. Para pedagang yang tadi melarikan diri tiba-tiba datang tertawa dengan mendorong gerobak mereka yang masih aman. Mereka kemudian menempati tempat berdagang mereka semula seolah tidak baru saja terjadi razia. Ya, sepertinya mereka sudah terbiasa dengan permainan petak umpet begini. Dan yang anehnya, Sang Polisi hanya bisa melihat dan menonton. Apakah mereka memang sengaja membiarkan para PKL kejar-kejaran seperti itu karena itu bukan tanggung jawab mereka?

Aku berandai-andai, andai saja yang duduk ditempat ku duduk ini adalah Sang Walikota, walikota yang akhirnya terpilih kembali untuk memimpin Kota Bandung lima tahun kedepan, apakah tidak terketuk hatinya untuk membenahi kota ini? Dari mulai aparat kepolisian yang bersantai-santai dan bahagia terhadap kesalahan pengendara yang ditakut-takuti dengan penilangan sehingga selembar uang merah menjadi miliknya. Para PKL yang saya yakin kebingungan dan tidak nyaman terus bermain petak umpet seperti itu, mereka pun ingin berjualan di tempat yang layak. Kemudian para pengangguran yang ingin mengamalkan ilmu yang mereka pelajari dengan sebuah pekerjaan yang layak… Ini baru pengandaian dari fenomena yang kulihat hanya sekitar setengah jam sebelum temanku keluar dan mengajakku pulang. Bagaimana jika aku sebagai Sang Walikota berjalan di Kota Bandung ini seharian? Kupikir mungkin aku bisa gila memikirkan semua ini… Memikirkan betapa berat amanah yang aku emban sebagai seorang walikota… Memikirkan bagaimana hisab yang kuperoleh karena telah menelantarkan beribu rakyat dan menghalalkan jalan orang-orang yang melakukan pekerjaan haram. Tak kuasa…

August 14, 2008 at 12:55 pm Leave a comment


Keep in your mind that your life just for Alloh

Categories

Twitter

Error: Please make sure the Twitter account is public.

My personality

Click to view my Personality Profile page

Blog Stats

  • 33,371 hits

Posting

Mutiara hikmah

July 2017
M T W T F S S
« Jul    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Islamic Calendar