Posts filed under ‘Industrial Management’

Value Stream Management

Value stream management merupakan sebuah proses untuk merencanakan (planning), memetakan (maping), dan mengontrol keberlanjutan proses manufaktur untuk mendapatkan produk dengan kualitas yang tinggi dan biaya yang rendah.

Metode VSM ini merupakan prinsip dasar penerapan sistem produksi lean atau Toyota Production System. Ada 8 tahapan dalam value stream management :

(more…)

Advertisements

March 29, 2010 at 9:31 pm Leave a comment

Business Process Re-engineering (BPR)

DESCRIPTION

Business Process Reengineering involves changes in structures and in processes within the business environment. The entire technological, human, and organizational dimensions may be changed in BPR. Information Technology plays a major role in Business Process Reengineering as it provides office automation, it allows the business to be conducted in different locations, provides flexibility in manufacturing, permits quicker delivery to customers and supports rapid and paperless transactions. In general it allows an efficient and effective change in the manner in which work is performed.

What is the Business Process Re-engineering

The globalization of the economy and the liberalization of the trade markets have formulated new conditions in the market place which are characterized by instability and intensive competition in the business environment. Competition is continuously increasing with respect to price, quality and selection, service and promptness of delivery. Removal of barriers, international cooperation, technological innovations cause competition to intensify. All these changes impose the need for organizational transformation, where the entire processes, organization climate and organization structure are changed. Hammer and Champy provide the following definitions:

February 27, 2010 at 10:17 am Leave a comment

Six Sigma vs Lean

Sometime, I was asked by somebody that which continuous improvement concept is suitable for their company? Lean manufacturing? or six sigma? I was wondered they have no idea for the differences between lean and six sigma. Here is a comparison table between lean and six sigma for your reference and hope it can help you to identify the strength and weakness of the tools. 

By the way, I give you one more condition to explain which is suitable for you as below,

  • Lean: suitable to use for solving perspicuously problem, that’s meant you no need to make a complicated calculation and mathematical analysis to identify the problem. You can point out every problem and mistake just according to the concept.
  • Six sigma: suitable to use for solving recessive problem. You can not identify the problem directly and you have to dig out the issue by a serious of statistical analysis.
Lean manufacturing is more suitable to use for solving perspicuously problem. If the process is defined as labor intensive, we can identify the problem, or wastes according to the 7 wastes concept. disassemble the actions for the work station, we can easily to identify which is value-added actions and which is non-value-added. Sometime, we need to use a stop watch to measure the process time. We can also easily to adjust and balance the process by a bar chart and no need to use the statistic tools or quantitative analysis for improvement activities. In simply say, if we can identify the problem by observation or simple measurement, lean manufacturing concept can help us to solve the problem and speed up the improvement progress.
 
For Six sigma, it would be more suitable to use for solving recessive problem. You can not identify the problem directly and you have to dig out the issue and reduce the variances of process by a serious of statistical analysis. For instant, a process, which is highly automatic, is needed to use six sigma for improvement. We can not identify the problem by observation because there is no operator working in the station. The machine or process is all covered by a metal shell. All the hidden problem can not be found by our bare eyes. At this moment, we need to measure all the detail, such as temperature, current, pressure, speed, and the parameters of the machine or production line, so that we can use the quantitative analysis method in six sigma to identify the issues and make the suggestion to adjust the parameter accordingly.
 
Is that any conflict between lean and six sigma? Absolutely not, in opposite way, they can support each other. Let us review the process for our working place, the process is always combined with automatic process and manual process. Do you agree? The most important thing is which tools is suitable for our target process. Sometime, we need lean to speed up the kaizen process, but sometime we need the six sigma to dig out the hidden problem. Therefore, we always call the continuous improvement activities as Lean sigma activities. Those tools can be combine together organically, the critical point is the kaizen leader has enough experience for both tools or not.
 
taken from : wongwowai.blogspot.com

November 22, 2009 at 12:39 pm Leave a comment

Balance Scorecard dan Performance Management

Balance Scorecard
Balance Scorecard lahir disebakan oleh adanya kesadaran bahwa implementasi strategi pada suatu perusahaan merupakan suatu bagian yang lebih penting daripada strategi itu sendiri. Hal itu disebabkan banyaknya perusahaan yang gagal melakukan apa yang telah mereka strategikan sehingga target financial yang mereka harapkan tidak tercapai. Dengan Balance Scorecard pula berkembanglah pemikiran bahwa untuk mencapai target financial harus dengan pencapaian target non-finansial yang terukur.

Balance Scorecard merupakan suatu tools untuk membantu mengukur keberhasilan suatu perusahaan secara seimbang, tidak hanya didominasi oleh perspektif financial tetapi juga oleh perspektif non-financial, yaitu perspektif customer/pelanggan, perspektif proses bisnis internal, serta perspektif pembelajaran dan pertumbuhan (learning and growth). Keempat perspektif tersebut memiliki hubungan kausalitas, yaitu jika target learning and growth berhasil tercapai, maka akan menimbulkan peningkatan pada perspektif proses bisnis internal dan customer/pelanggan sehingga pada akhirnya akan tercapai keberhasilan secara financial. Untuk mencapai target perusahaan, pengukuran yang menggunakan Balance Scorecard dilakukan dengan menerjemahkan strategi ke dalam bentuk scorecard target, sasaran strategis, serta metode. Hal itu dilakukan agar tahapan sasaran lebih mudah untuk diimplementasikan sehingga target lebih mudah tercapai.

Berikut adalah keempat perspektif dari Balance Scorecard bersama target berupa KPI (Key Performance Indicators) yang biasa diterapkan:

1. Perspektif customer/pelanggan
Pelanggan dalam suatu perusahaan merupakan penentu keberhasilan finansial. Sebab, dengan adanya pelanggan itulah perusahaan dapat tetap berjalan. Oleh karena itu, perusahaan harus terus berusaha memuaskan pelanggan dengan meningkatkan index-index yang berkaitan dengan kepuasan dan pertumbuhan pelanggan. KPI yang biasa diterapkan pada perspektif ini diantaranya: CSI (customer satisfaction index), CLI (customer loyalty index), persentase customer acquisition, brand image index, brand loyalty index, persentase market share, dan market penetration level. Pengukuran perspektif pelanggan ini biasanya dilakukan dengan penyebaran kuisioner secara kualitatif kepada para pelanggan (market research).

2. Perspektif proses bisnis internal
Untuk meraih keberhasilan dalam perspektif finansial dan pelanggan, maka harus dilakukan perbaikan dan penyempurnaan pada perspektif proses bisnis internal perusahaan. Proses itu dilakukan diantaranya dengan mengevaluasi dan membuat strategi dari ekspektasi atau harapan pelanggan dengan proses perbaikan internal bisnis perusahaan. Proses tersebut dapat diukur diantaranya dengan KPI persentase produk yang cacat (defect rate), tingkat kecepatan dalam proses produksi, jumlah inovasi proses dan produk dalam setahun, jumlah produk/jasa yang di-delivery tepat waktu, dan jumlah pelanggaran SOP (Standard Operating Prosedure).

3. Perspektif pembelajaran dan pertumbuhan
Perspektif ini merupakan pondasi dari keberhasilan ketiga perspektif lainnya. Sebab, keberhasilan pada perspektif ini akan mempermudah keberhasilan pada perspektif pelanggan dan internal bisnis. Pada dasarnya, perspektif pembelajaran dan pertumbuhan dilakukan untuk meningkatkan kualitas karyawan, potensi kepemimpinan, dan kekuatan kultur organisasi untuk terus-menerus tumbuh dan memperbaiki diri. KPI yang biasa digunakan untuk mengukur keberhasilan perspektif ini adalah tingkat kepuasan karyawan (Employee Satisfaction Index), level kompetensi rata-rata karyawan, indeks kultur perusahaan, jumlah jam pelatihan dan pengembangan karyawan.

4. Perspektif keuangan
Perspektif ini merupakan tujuan akhir dari keberhasilan suatu organisasi, yaitu profit yang diperoleh perusahaan. Dengan adanya pengukuran kinerja keuangan dapat ditunjukkan apakah implementasi strategi perusahaan dalam pelaksanaannya memberikan peningkatan atau perbaikan. Keberhasilan yang diperoleh pada perspektif ini biasanya diukur oleh KPI sbb: tingkat profitabilitas perusahaan, jumlah penjualan dalam setahun (sales revenue), tingkat efisiensi biaya operasi, ROI (return on investment), ROA (return on asset), EVA (economic value added), cost reduction/productivity improvement dan pertumbuhan market share (revenue growth).

Dalam menentukan indeks keberhasilan (KPI) dalam setiap perspektif, kita harus menyesuaikan KPI tersebut dengan visi misi dan tujuan perusahaan serta memiliki korelasi yang erat antara satu perspektif dengan perspektif lainnya.

Pada dasarnya, konsep dari Balance Scorecard itu simpel dan mudah dipahami tetapi fleksibel sesuai dengan kebutuhan dan tujuan perusahaan serta dapat diintegrasikan atau digabungkan dengan berbagai metode manajemen lainnya. Penerapan Balance Scorecard menuntut pemimpin perusahaan berpikir secara kuantitatif (karena pengukuran berdasarkan KPI), berpikir sistematik (karena terdapat hubungan sebab akibat dalam setiap program kerja perusahaan), dan berpikir secara komprehensif (karena harus melihat kinerja perusahaan dari berbagai sudut pandang).

Performance Management
Keberlangsungan pelaksanaan dari penggunaan Balance Scorecard bergantung juga kepada Performance Management yang diterapkan kepada seluruh karyawan dimana terdapat perencanaan kerja dari setiap individu. Proses diawali dengan menetapkan visi dan misi perusahaan, kemudian mendefinisikan elemen apa saja yang terlibat dalam core business untuk mencapai visi tersebut. Kedua proses penentuan tersebut dilakukan dengan melibatkan pendapat dari seluruh karyawan. Selanjutnya, perlu dibuat suatu ukuran target pencapaian (dalam ukuran angka) terhadap seluruh hal-hal yang terkait dalam core business tersebut kedalam empat perspektif BSC. Tahap selanjutnya adalah mensosialisasikan target-target tersebut kepada seluruh karyawan agar seluruh karyawan mengetahui target yang harus dicapai sesuai tanggung jawab tugasnya. Dengan mengetahui target tersebut, diharapkan tumbuh suatu motivasi dalam diri karyawan untuk mencapai target tersebut. Dan yang terpenting, perlu adanya proses monitoring dan evaluating terhadap keberjalanan rangkaian proses tersebut secara berkala. Dan terakhir, harus diadakan proses reward and punishment bagi karyawan. Reward diberikan kepada karyawan yang telah berhasil memenuhi target berdasarkan hasil penilaian kinerja. Sedangkan punishment diberikan kepada karyawan yang jauh memenuhi target. Biasanya akan lebih baik jika dilakukan pembinaan atau pelatihan daripada pemberian punishment. Serangkaian proses ini memerlukan komitmen yang tinggi dan kesamaan mind settop management hingga lower management untuk mensukseskan alur kerja ini. dari mulai

Manajemen kinerja yang baik untuk menuju perusahaan berkinerja tinggi, harus mengikuti kaidah-kaidah berikut:

1.  Terdapat suatu proses siklus manajemen kinerja yang baku dan dipatuhi untuk dikerjakan bersama, yaitu:

  • Perencanaan kinerja, berupa penetapan indikator kinerja, strategi, dan program kerja yang diperlukan untuk mencapai kinerja yang diinginkan.
  • Pelaksanaan, eksekusi dari perencanaan kinerja
  • Evaluasi kinerja, menganalisis apakah realisasi kinerja sesuai dengan rencana yang ditetapkan. Kesemuanya harus diukur secara kuantitatif.

2.  Terdapat suatu indikator kinerja (key performance indicator) yang terukur secara kuantitatif dan jelas batas waktu untuk mencapainya. Indikator yang disusun harus sesuai dengan visi misi perusahaan dan dapat menjawab berbagai permasalahan yang dihadapi oleh perusahaan tersebut. Semuanya harus terukur secara kuantitatif dan dimengerti oleh berbagai pihak yang terkait, sehingga pada saat evaluasi kita dapat mengetahui, apakah kinerja sudah mencapai target atau belum. Perusahaan yang tidak memiliki indikator kinerja, biasanya tidak dapat diharapkan mampu mencapai kinerja yang memuaskan para pihak yang berkepentingan (stakeholders).

3. Terdapat kontrak kinerja (performance contract) yang berisikan semua kesepakatan ukuran kinerja antara atasan dan bawahan, yaitu sasaran pancapaian akhir, program kerja untuk mencapai sasaran, dan jangka waktu pencapaiannya. Dengan adanya kontrak kinerja, maka akan mempermudah proses evaluasi apakah seorang karyawan sudah mencapai kinerja yang diinginkan atau belum. Jika belum, maka atasan dapat melihat progress dan proses kerja bawahannya, tidak hanya melihat hasil akhir semata.

4. Terdapat suatu sistem reward dan punishment yang bersifat konstruktif dan konsisten dijalankan.

5. Terdapat suatu mekanisme performance appraisal atau penilaian kinerja yang relatif obyektif, yaitu dengan melibatkan berbagai pihak. Konsep tersebut dikenal dengan metode penilaian 360 derajat, di mana penilaian kinerja dilakukan oleh atasan, rekan sekerja, pengguna jasa, serta bawahan. Pada prinsipnya manusia itu berpikir secara subyektif, tetapi berpikir bersama mampu mengubah sikap subyektif itu menjadi sangat mendekati obyektif.

6. Terdapat suatu gaya kepemimpinan (leadership style) yang mengarah kepada pembentukan perusahaan berkinerja tinggi. Inti dari kepemimpinan seperti ini adalah adanya suatu proses coaching, counseling, dan empowerment kepada sumber daya manusia di dalam perusahaan. Satu aspek lain yang sangat penting dalam gaya kepemimpinan adalah, sikap followership, atau menjadi pengikut.

7. Menerapkan konsep manajemen SDM berbasis kompetensi, seperti manajemen kinerja, rekruitmen dan seleksi, pendidikan dan pengembangan, dan promosi. Jika kompetensi ini sudah dibakukan di dalam perusahaan, maka kegiatan manajemen SDM akan menjadi lebih transparan, dan pimpinan perusahaan juga dengan mudah mengetahui kompetensi apa saja yang perlu diperbaiki untuk membawa perusahaan menjadi berkinerja tinggi.

-dari berbagai sumber- berusaha menjawab kebingunganku di tanah TI (Teknik Industri)

August 16, 2008 at 2:17 pm Leave a comment

Tariff, Pricing, and Revenue

Variabel utama yang menentukan fungsi dari revenue adalah marketing. Walaupun terdapat banyak variabel lain yang memperngaruhi fungsi revenue (seperti tarif, volume, kepuasan pelanggan, kompetitor, penggunaan teknologi, SDM, dll) tetapi variabel marketing inilah yang sangat menentukan nilai dari revenue. Mengapa? Karena kegiatan marketing inilah yang dapat menjual produk yang dihasilkan oleh perusahaan ke pasar dengan cara memberikan pencitraan produk kepada masyarakat sehingga mengubah persepsi masyarakat terhadap suatu barang. Misalkan, apakah barang tersebut murah atau mahal, berkualitas baik atau tidak, memiliki promo, bonus, atau tidak, pelayanan yang diberikan memuasakan atau tidak, dan hal-hal lain yang pada akhirnya berujung pada persepsi apakah produk tersebut layak dipilih konsumen atau tidak. Bagaimana mengubah persepsi customer agar memutuskan untuk memilih produk itulah tanggung jawab marketing. Sehingga jelaslah bahwa kegiatan marketing menjadi titik tumpu besarnya nilai revenue yang diperoleh oleh suatu perusahaan.

Fungsi standar dari revenue:
f(Revenue) = Volume x Tarif
Perhitungan dipisahkan antara produk yang merupakan produk monopoli dan produk berkompetisi. Hal ini disebabkan produk yang berkompetisi memerlukan proses pricing dengan tarif yang terus berubah dalam suatu jangka waktu, sedangkan produk monopoli telah memiliki fixed price untuk jangka waktu yang relatif lama.

Proses pricing merupakan suatu strategi penetapan harga agar seolah-olah masyarakat menilai suatu produk terlihat murah walaupun pada kenyataannya produk tersebut telah memiliki harga dasar yang relatif tetap. Jadi, proses pricing dilakukan dengan mencari optimasi revenue terhadap suatu kombinasi tarif dengan didasari pada persepsi konsumen. Misalkan harga dasar suatu pulsa per menit adalah Rp100,00. Proses pricing dilakukan dengan menganalisis apakah harga yang ditawarkan kepada konsumen Rp50,00 x 2, atau Rp25,00 x 4, atau Rp90,00 plus bonus, atau Rp200,00 / 2, atau kombinasi lainnya yang pada akhirnya akan relatif sama dengan harga dasarnya. Proses pricing tidak selamanya dilakukan untuk menghasilkan revenue maksimum, tetapi pada suatu kondisi tertentu (terutama di awal launching suatu produk atau ketika suatu produk sedang bersaing) price ditetapkan dengan tujuan mengejar pasar dengan harapan terbentuk suatu persepsi pasar bahwa produk tersebut murah sehingga akan meningkatkan jumlah pengguna yang akhirnya dapat meningkatkan revenue di kemudian hari.

Untuk melakukan prediksi revenue di masa depan dapat dilakukan dengan dua kondisi. Pertama, jika tarif tetap. Dan yang kedua, jika tarif berubah. Pada kondisi pertama, tidak terdapat perubahan tarif sehingga kita dapat lebih mudah memprediksi revenue, yaitu dengan mengestimasi perubahan volume penggunaan. Nilai estimasi ini dapat ditetapkan berdasarkan data volume beberapa bulan sebelumnya, melihat pengalaman perusahaan lain yang bergerak dibidang yang sama (dalam dan luar negeri) dengan tidak lupa melihat perbedaan karakteristik customer, dan juga dengan menggunakan logika pengusaha. Sedangkan pada kondisi kedua, perlu dilakukan proses optimisasi dengan melakukan pemilahan terhadap konsumen yang ada menurut volume penggunaannya (dari pasif ke aktif). Dari data tersebut kemudian dilakukan suatu simulasi perubahan tarif dengan beberapa alternatif tarif sehingga terlihat estimasi besarnya volume penggunaan setelah perubahan tarif pada masing-masing alternatif. Selain itu, diestimasi pula banyaknya jumlah konsumen baru yang disebabkan oleh adanya perubahan tarif tersebut. Penentuan tarif mana yang diberlakukan disesuaikan dengan tujuan perubahan tarif, apakah untuk menaikkan revenue atau untuk menambah jumlah pengguna.

– Hasil obrolan Jumat dengan P’Rian (BPE Telkom) dan Pa’Freddy Bain (Unit tarif Telkom) –

August 3, 2008 at 1:12 pm Leave a comment

Conventional vs Sharia Banking

Perbedaan antara Bank Konvensional dengan Bank Syari’ah

Bank Konvensional Bank Syari’ah
1. Berdasarkan prinsip bunga yang berlaku di awal periode. 1. Berdasarkan prinsip bagi hasil, jual beli, atau sewa yang akadnya telah disepakati di awal periode.
2. Profit oriented. 2. Profit and risk sharing oriented.
3. Berorientasi hanya pada keuntungan duniawi. 3. Berorientasi pada kemaslahatan dunia dan akhirat bagi kedua belah pihak.
4.  Seluruh transaksi yang dilakukan hanya berdasarkan akad titipan yang tidak mengikuti prinsip mana pun dalam muamalah Islam. 4. Seluruh transaksi harus berdasarkan akad yang sesuai dengan prinsip muamalah Islam.
5. Uang adalah komoditi. 5. Uang adalah alat tukar dan alat ukur.
6. Besarnya hasil penambahan dana dapat dihitung di awal periode karena besarnya bunga telah diketahui di awal periode. 6. Besarnya dana di akhir periode tidak dapat ditentukan di awal periode karena bergantung kepada kondisi (laba/rugi).
7. Hubungan antara bank dengan nasabah merupakan hubungan kreditur-debitur. 7. Hubungan antara bank dan nasabah merupakan hubungan kemitraan/investor.
8. Pembiayaan dana digunakan untuk seluruh investasi tanpa melihat halal haramnya produk/jasa maupun cara yang digunakan. 8. Pembiayaan dana digunakan hanya untuk investasi produk/jasa yang halal, baik zat, kegunaan, maupun caranya (akadnya).
9. Jika terdapat sengketa antara bank dengan nasabah diselesaikan melalui lembaga Peradilan. 9. Jika terdapat sengketa antara bank dengan nasabah diselesaikan melalui BAMUI (Badan Arbitrase Muamalah Indonesia) sesuai tata cara dan hukum syari’ah Islam.
10. Bunga diberikan kepada nasabah tanpa memperhitungkan jumlah pendapatan yang dihasilkan dari dana yang dihimpun, sehingga jika bunga yang wajib dibayarkan kepada kreditur lebih besar daripada bunga yang diterima dari debitur maka bank mengalami kerugian (negative spread) karena harus menambahkan dana pembayaran bunga. 10. Keuntungan yang diberikan kepada investor dengan pendekatan LDR (Loan to Deposit Ratio) yaitu mempertimbangkan rasio antara dana pihak ketiga dan pembiayaan yang diberikan. Hal ini mencerminkan keadilan karena bank membagikan hasil riil dari dunia usaha kepada pemilik dana (investor).
11. Tidak terdapat dewan pengawas penghimpunan dan penyaluran dana. 11. dan penyaluran dana harus sesuai dengan fatwa Dewan Pengawas Syari’ah.

 

Kelemahan dari bank konvensional yang menjadi indikator kegagalan sistem ekonomi konvensional:

  1. Adanya ketidaktransparanan dalam penggunaan dana karena nasabah tidak mengetahui penyaluran dana digunakan untuk apa, apakah untuk usaha produktif ataukah untuk pembiayaan dana konsumtif.
  2. Merupakan proses membungakan uang yang kurang mengandung risiko bagi penyimpan dana karena perolehan kembaliannya berupa bunga yang relatif pasti dan tetap tanpa mengindahkan apa yang terjadi pada pengelola usaha.
  3. Menyebabkan ketidakstabilan ekonomi.
  4. Menimbulkan lebarnya gap ”the have” dengan ”the have not” karena dengan adanya proses membungakan uang maka orang-orang kaya akan semakin kaya dengan penghasilan dari dana idle-nya yang terus berbunga dengan hanya memberi sedikit celah untuk berbagi dengan orang-orang yang kurang mampu untuk melakukan usaha, sehingga hal ini dapat menghambat laju perekonomian masyarakat menengah ke bawah.
  5. Karena berorientasi pada profit maka industri perbankan konvensional saat ini semakin menjauhi sektor riil dan lebih senang bermain dengan risiko “derivative transactions” dengan memanfaatkan booming sektor konsumsi yang menghasilkan keuntungan lebih besar. Hal ini mendorong gaya hidup masyarakat untuk lebih konsumtif.
  6. Melebarnya krisis ekonomi karena dengan diterapkannya sistem bunga maka jika terjadi inflasi maka bank akan mengalami negative spread (kerugian untuk menalangi biaya bunga yang wajib dibayarkan kepada nasabah pemilik dana karena bunga yang didapatkan dari kreditur terhambat dikarenakan adanya inflasi) yang dapat menyebabkan bank gulung tikar.

Berbagai kelemahan bank konvensional inilah yang mendorong berkembangnya bank syari’ah di Indonesia karena dari berbagai sisi telah terlihat bahwa sistem bunga yang diterapkan lebih banyak membawa dampak negatif bagi perekonomian.

Karakteristik Bank Syari’ah

Asas utama: kemitraan, keadilan, transparansi, dan universal.

  • Pelarangan riba, maisir, gharar.
  • Tidak mengenal konsep time value of money, jadi nilai uang tidak akan berubah dengan adanya perubahan waktu.
  • Konsep uang sebagai alat tukar bukan sebagai komoditas.
  • Tidak melakukan upaya spekulatif.
  • Tidak menggunakan dua transaksi dalam satu akad.
  • Tidak menggunakan dua harga dalam satu barang.
  • Menerapkan konsep bagi hasil atau akad lain yang sesuai dengan aturan muamalah dalam Islam.
  • Tidak membedakan secara tegas antara sektor rill dan sektor moneter.
  • Dapat memperoleh imbalan atas jasa perbankan lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syari’ah.

Bank syari’ah memiliki berbagai fungsi, yaitu sebagai:

  1. Manager investasi
  2. Investor
  3. Penyedia jasa keuangan dan lalu lintas pembayaran, dan
  4. Pelaksana kegiatan sosial.

Bank sebagai manager investasi berupaya untuk melakukan proses penghimpunan dana dari masyarakat. Dalam proses ini, nasabah pemilik modal disebut dengan Shahibul Maal (penyandang dana), sedangkan bank syari’ah sebagai Mudharib (pengelola). Proses penghimpunan dana terdapat beberapa jenis, yaitu:

  1. Modal, yaitu dana yang diserahkan oleh owner yang digunakan untuk pembelian fixed asset dan untuk pembiayaan produktif. Pemilik modal akan memperoleh bagian dari hasil usaha yang biasa disebut dengan deviden. Deviden ini dibayarkan per tahun berdasarkan keuntungan yang diperoleh. Akad yang biasa digunakan dalam penghimpunan modal adalah musyarakah.
  2. Titipan, yaitu penghimpunan dana titipan yang berasal dari Shahibul Maal. Produk bank yang digunakan adalah giro dan tabungan yang dilakukan dengan akad Wadiah Yad Al-Dhamanah, dimana bank dapat mempergunakan dana tersebut untuk dikelola, dan pemilik dana akan memperoleh bonus/fee dari keuntungan pemanfaatan dana tersebut. Selain itu, produk bank yang dapat digunakan adalah safe deposit box, dimana dana yang disimpan melalui akad Wadi’ah Yad Al-Amanah yang dananya tidak dapat dipergunakan oleh bank.
  3. Investasi, yaitu penghimpunan dana yang bertujuan untuk membentuk kerja sama antara pemilik dana dan pengelola, biasanya dalam bentuk deposito. Nasabah akan berlaku sebagai Shahibul Maal dengan akad Mudharabah Muthlaqah dan mendapat bagi hasil dari kegiatan yang diusahakan oleh pengelola sesuai dengan nisbah bagi hasil yang telah disepakati. Terdapat pula produk investasi lain yang menggunakan akad Mudharabah Muqayyadah yaitu special investment yang hanya dapat digunakan untuk pembiayaan usaha yang telah disepakati ketika akad.

Setelah dilakukan proses penghimpunan dana, maka bank akan menggunakan dana yang telah ada untuk disalurkan sebagai pembiayaan kepada berbagai usaha yang berprospek, dan tentu saja harus sesuai dengan sistem perekonomian Islam. Dalam proses ini bank berlaku sebagai Shahibul Maal (penyandang dana), sedangkan nasabah pembiayaan sebagai Mudharib (pengelola). Produk pembiayaan yang biasa dilakukan adalah:

  1. Bagi hasil (Syirkah), yaitu memberikan pembiayan kepada nasabah untuk menjalankan usahanya dengan akad musyarakah/mudharabah sesuai kesepakatan. Bank mendapat bagi hasil sesuai dengan nisbah yang telah disepakati.
  2. Jual-beli (Tijarah), yaitu memberikan pembiayaan kepada nasabah untuk membeli suatu barang yang disesuaikan dengan akad jual beli (murabahah, salam, atau istishna’). Bank akan mendapat keuntungan dari selisih margin yang telah disepakati oleh nasabah pembeli.
  3. Sewa (Ijarah), yaitu memberikan bantuan leasing kepada nasabah dengan biaya sewa yang disepakati.

Selain melakukan ketiga jenis proses pembiayaan tersebut, bank syari’ah pun menjadi penyedia jasa keuangan seperti wakalah, kafalah, hawalah, Ar-Rahn, dan Sharf. Bank akan mendapat keuntungan dari fee yang diberikan atas imbalan jasa yang telah dilakukan oleh bank. Dari proses penghimpunan dan penyaluran dana, serta proses penyedia jasa inilah bank syari’ah dikatakan berfungsi sebagai penyedia jasa keuangan dan lalu lintas pembayaran.

Dari proses penghimpunan dana, nasabah pemilik dana akan mendapatkan bagi hasil, fee, dan deviden. Begitu pula pada proses pembiayaan, nasabah pembiayaan akan memperoleh bagi hasil, margin, dan biaya sewa. Sesuai dengan syariat Islam, maka keuntungan yang diperoleh tersebut dikenakan kewajiban zakat. Dana zakat itu kemudian diambil oleh bank syari’ah dengan persetujuan nasabah untuk dikelola sebagai dana umat yang kemudian dipergunakan untuk pemberian pinjaman kebajikan yang mayoritas disalurkan kepada pengusaha sektor riil skala menengah kebawah. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas masyarakat sekaligus sebagai upaya pemerataan ekonomi masyarakat. Pinjaman kebajikan ini diberikan setelah bank menganalisis usaha yang akan dilakukan, termasuk diantaranya menganalisis apakah usaha tersebut sesuai dengan aturan muamalah dalam Islam. Disinilah bank syari’ah berfungsi sebagai pelaksana kegiatan sosial.

 ***

Bagian I Bab I TA-ku

Sumber

Antonio, Muhammad Syafii. 2001. Bank Syari’ah: Dari Teori Ke Praktik. Jakarta: Gema Insani.

El-Diwany, Tarek. 2005. The Problem With Interest: Sistem Bunga dan Permasalahannya. Jakarta: Akbar Media Eka Sarana.

Muhammad, dkk. 2007. Modul Short Course Bank Syari’ah. Yogyakarta: Sekolah Tinggi Ekonomi Islam.

June 16, 2008 at 3:17 am Leave a comment


Keep in your mind that your life just for Alloh

Categories

Twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

My personality

Click to view my Personality Profile page

Blog Stats

  • 35,192 hits

Posting

Mutiara hikmah

November 2017
M T W T F S S
« Jul    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Islamic Calendar